Abses Peritonsillar Pembimbing: dr. Kote Noordhianta, Sp. THT-KL, Daniela Angeline Identitas Pasien Nama: Bpk. J.B Usia: REFERAT ABSES PERITONSILER Pembimbing: atra Oleh: Miya Elmira () Yesika Okta S () FK. View Notes – SIMULASI KASUS – ABSES QUINCY from M at Sam Ratulangi University. SIMULASI KASUS THT ABSES PERITONSILER (KOMPETENSI 2).

Author: Vim Tajas
Country: Djibouti
Language: English (Spanish)
Genre: Health and Food
Published (Last): 13 October 2018
Pages: 389
PDF File Size: 10.95 Mb
ePub File Size: 12.16 Mb
ISBN: 280-2-14721-655-7
Downloads: 75120
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Taktilar

Thank you for interesting in our services. We are a non-profit group that run this website to share documents. We need your help to maintenance this website.

Please help us to share our service with your friends. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun sistem imunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan napas yang signifikan pada peritonsilre.

Infeksi ini memiliki proporsi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Bukti menunjukkan bahwa tonsilitis kronik atau tonsilitis percobaan multipel penggunaan antibiotik oral untuk akut merupakan predisposisi pada preitonsiler untuk berkembangnya abses peritonsil.

Di Amerika insiden tersebut kadang-kadang berkisar 30 kasus per Abses leher dalam terbentuk dalam ruang potensial diantara fasia leher dalam sebagai akibat dari penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher tergantung ruang mana peditonsiler terlibat.

Gejala dan tanda klinik dapat berupa nyeri dan pembengkakan. Abses peritonsil Quinsy merupakan salah satu dari Abses leher peritondiler dimana selain itu abses leher dalam dapat juga abses retrofaring, abses parafaring, abses submandibula dan angina ludovici Ludwig Angina. Abses peritonsil adalah penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada bagian kepala dan leher. Peritonsilre dari bakteri aerobic dan anaerobic di daerah peritonsil. Tempat yang bisa berpotensi terjadinya abses adalah adalah didaerah peritonsi,er tonsil anteroposterior, fossa piriform inferior, dan palatum superior.

Abses peritonsil bakteri penginfeksi terbentuk oleh karena penyebaran organisme tenggorokan kesalah satu ruangan areolar yang longgar disekitar faring menyebabkan pembentukan abses, dimana infeksi telah menembus kapsul tonsil tetapi tetap dalam batas otot konstriktor faring.

Anatomi Tonsil palatina adalah massa jaringan limfoid yang terletak didalam fosa tonsillaris pada dinding lateral orofaring. Tonsil palatina merupakan bagian dari cincin waldeyer. Jaringan limfoid yang mengelilingi faring, pertama kali digambarkan anatominya oleh Heinrich von Waldeyer, seorang ahli anatomi Jerman.

Jaringan limfoid lainnya yaitu adenoid tonsil pharingealtonsil lingual, pita lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid. Nasofaring merupakan bagian dari faring yang terletak diatas pallatum molle, orofaring yaitu bagian yang terletak diantara palatum molle dan tulang hyoid, peritonsioer laringofaring bagian dari faring yang meluas dari tulang hyoid sampai ke batas bawah kartilago krikoid.

Orofaring ahses ke rongga mulut pada pilar anterior faring. Pallatum molle vellum palati terdiri dari serat otot qbses ditunjang oleh jaringan fibrosa yang dilapisi oleh mukosa.

Penonjolan di median membaginya menjadi dua bagian. Bentuk seperti kerucut yang terletak disentral disebut uvula. Anatomi rongga mulut Tonsil palatina absed dari9: Di dalam nya terdapat germinating folikel, tempat pembentukan limfosit, plasma sel. Kapsul fibrous yang berhubungan dengan fasia pharingo-basilaris yang menutupi m. Masuk ke dalam parenkim tonsil akan membentuk septa dan membawa pembuluh darah dan peritonsller.

Mukosa yang dibentuk oleh epitel selapis gepeng, kripta, dan mikrokripta. Pilar posterior yang dibentuk oleh palatopharingeus yang berjalan dari perironsiler bawah pharing menuju aponeurosis palatum molle. Pilar anterior yang dibentuk oleh palatoglossus yang berjalan dari permukaan bawah lidah menuju aponeurosis palatum molle. Palatoglosus mempunyai origo seperti kipas di permukaan oral palatum mole dan berakhir pada ahses lateral lidah. Palatofaringeus merupakan otot yang tersusun vertikal dan diatas melekat pada palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak.

  KUMPULAN JURNAL AKUNTANSI KEPERILAKUAN PDF

Otot ini meluas kebawah sampai kedinding atas esofagus. Otot ini lebih penting daripada palatoglosus dan harus diperhatikan pada operasi tonsil agar tidak melukai otot ini. Kedua pilar bertemu diatas untuk bergabung dengan paltum mole. Di inferior akan berpisah dan memasuki jaringan pada dasar lidah dan lateral dinding faring. Plika triangularis tonsilaris merupakan lipatan mukosa yang tipis, yang menutupi pilar anterior dan sebagian permukaan anterior tonsil.

Plika semilunaris supratonsil absses lipatan sebelah atas dari mukosa yang mempersatukan kedua pilar. Fossa supratonsil merupakan celah yang ukurannya bervariasi yang terletak diatas tonsil diantara pilar anterior dan posterior. Celah atau ruangan ini terjadi karena tonsil tidak mengisi penuh fossa tonsil.

Tonsil palatina lebih padat dibandingkan jaringan limfoid lain, berbentuk oval dengan panjang cm, Permukaan sebelah dalam tertutup oleh membran epitel skuamosa berlapis yang sangat melekat. Permukaan lateral-nya ditutupi oleh kapsul tipis dan di permukaan medial terdapat kripta. Kripta tonsil berbentuk saluran tidak sama panjang dan masuk ke bagian dalam jaringan tonsil yang mengandung jaringan limfoid dan disekelilingnya terdapat jaringan ikat.

Ditengah kripta terdapat muara kelenjar mukus. Permukaan perjtonsiler ditutupi oleh epitel yang sama dengan epitel peritonsilsr medial tonsil. Umumnya berjumlah ases untuk masing-masing tonsil, kebanyakan terjadi penyatuan beberapa kripta. Saluran kripta ke arah luar biasanya bertambah luas. Secara klinik kripta dapat merupakan sumber infeksi, baik lokal maupun umum karena dapat terisi sisa makanan, epitel yang terlepas, kuman.

Anatomi Tonsil Palatina dan jaringan sekitarnya. Bagian luar tonsil terikat pada m. Selama masa embrio, tonsil terbentuk dari kantong pharyngeal kedua sebegai tunas dari sel endodermal. Singkatnya setelah lahir, tonsil tumbuh secara irregular peritlnsiler sampai mencapai ukuran dan bentuk, tergantung dari jumlah adanya jaringan limphoid.

Carotis interna terletak 2,5 cm di belakang dan lateral tonsilla. Sedangkan inervasinya diperoleh dari n. Pembuluh limfe masuk dalam nl. Nodus paling penting pada kelompok ini adalah nodus jugulodigastricus, yang terletak di bawah dan belakang angulus mandibulae.

Akumulasi nodus berlokasi di antara kapsul tonsil palatinus dan otot-otot konstriktor pharynx. Pillar anterior dan posterior, torus tubarius superiordan sinus piriformis inferior membentuk batas-batas potential peritonsillar space. Proses penelanan dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, gerakan makanan dari mulut ke faring secara volunter. Tahap kedua, transport makanan melalui faring, dan tahap ketiga, jalannya bolus melalui esofagus, keduanya secara involunter. Langkah yang sebenarnya adalah: Elevasi lidah dan palatum mole mendorong bolus ke orofaring.

Otot suprahioid berkontraksi, elevasi tulang hioid dan laring dan dengan demikian membuka peeritonsiler dan sinur piriformis. Secara bersamaan otot laringis intrinsik berkontraksi dalam gerakan seperti sfingter untuk mencegah aspirasi. Gerakan yang kuat dari lidah bagian belakang akan mendorong makanan ke bawah melalui orofaring, gerakan dibantu oleh kontraksi otot konstriktor faringis media dan superior.

Bolus dibawa melalui introitus esofagus ketika otot konstriktor faringis inferior berkontraksi dan otot krikofaringeus berelaksasi. Peristaltik dibantu oleh gaya berat, menggerakkan makanan melalui esofagus dan masuk ke lambung. Kenyataannya, secara filogenetik, laring mula-mula berkembang sebagai suatu sfingter yang melindungi saluran pernapasan, sementara perkembangan suara merupakan peristiwa yang terjadi belakangan.

Perlindungan jalan napas selama aksi menelan terjadi melalui berbagai mekanisme berbeda. Aditus laringis sendiri tertutup oleh kerja sfingter dari otot tiroaritenoideus dalam plika ariepiglotika dan korda vokalis palsu, di samping aduksi korda vokalis sejati dan aritenoid yang ditimbulkan oleh otot intrinsik laring lainnya.

  ARABBA SKIMAP PDF

Elevasi laring di bawah avses lidah melindungi laring lebih lanjut dengan mendorong epiglotis dan plika ariepiglotika ke bawah menutup aditus. Struktur ini mengalihkan makanan ke lateral, menjauhi aditus laringis dan masuk ke sinus piriformis, selanjutnya ke introitus esofagi. Relaksasi otot krikofaringeus yang terjadi bersamaan mempermudah jalan makanan ke dalam esofagus sehingga tidak masuk ke laring.

Di samping itu, respirasi juga dihambat selama proses menelan melalui suatu refleks yang diperantarai reseptor pada mukosa daerah supraglotis. Hal ini mencegah inhalasi makanan atau saliva. Pada bayi posisi laring yang lebih tinggi memungkinkan kontak antara epilglotis dengan permukaan posterior palatum mole. Maka bayi- bayi peritonsjler bernapas selama laktasi tanpa masuknya makanan ke jalan napas.

Selama respirasi, tekanan intratoraks dikendalikan oleh berbagai derajat penutupan korda vokalis sejati. Perubahan tekanan ini membantu sistem jantung seperti juga ia mempengaruhi pengisian dan pengosongan jantung dan paru.

REFERAT ABSES PERITONSILER – Free Download PDF

Selain itu, bentuk korda vokalis palsu dan sejati memungkinkan laring berfungsi sebagai katub tekanan bila menutup, memungkinkan peningkatan tekanan intratorakal yang diperlukan untuk tindakan-tindakan mengejan, misalnya mengangkat berat atau defekasi.

Pelepasan tekanan secara mendadak menimbulkan batuk yang berguna untuk mempertahankan ekspansi alveoli terminal dari paru dan membersihkan sekret atau partikel makanan yang berakhir dalam aditus laringis, selain semua mekanisme proteksi lain yang disebutkan di atas.

Namun, pembentukan suara agaknya merupakan fungsi laring yang paling kompleks dan paling baik diteliti. Korda vokalis sejati yang terduksi, kini diduga berfungsi peritonwiler suatu alat bunyi pasif yang bergetar akibat udara yang dipaksa antara korda vokalis sebagai akibat kontraksi otot-otot ekspirasi.

Nada dasar yang dihasilkan dapat dimodifikasi dengan berbagai cara. Otot intrinsik laring dan krikotiroideus berperan penting dalam penyesuaian tinggi nada dengan mengubah bentuk dan massa ujung-ujung bebas korda vokalis sejati dan tegangan korda itu sendiri.

Otot ekstralaring juga dapat ikut berperan.

Semuanya ini dipantau melalui suatu mekanisme umpan balik yang terdiri dari telinga manusia dan suatu sistem dalam laring sendiri yang kurang dimengerti. Sebaliknya, kekerasan suara pada hakekata proporsional dengan tekanan aliran udara subglotis yang menimbulkan gerakan korda vokalis sejati. Di lain pihak, berbisik diduga terjadi akibat lolosnya udara melalui komisura posterior di antara aritenoid yang terabduksi tanpa getaran korda vokalis sejati 2.

Fungsinya adalah untuk melawan infeksi. Definisi Abses peritonsil adalah penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada bagian kepala dan leher. Gabungan dari bakteri aerobic dan anaerobic di daerah peritonsilar. Epidemiologi Abses peritonsil dapat terjadi pada umur peritonsoler, namun paling sering terjadi pada umur tahun.

REFERAT ABSES PERITONSILER

Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun sistem immunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan napas yang signifikan pada anak-anak. Bukti menunjukkan bahwa tonsilitis kronik atau percobaan multipel penggunaan antibiotik oral untuk tonsilitis akut merupakan predisposisi pada orang untuk berkembangnya abses peritonsiler. Etiologi Proses ini terjadi sebagai komplikasi tonsilitis peritonsler atau infeksi yang bersumber dari kelenjar mukus Weber di kutub atas tonsil.

Biasanya kuman penyebab sama dengan penyebab tonsilitis, dapat ditemukan kuman aerob dan anaerob.